Contoh Laporan Sementara Praktikum Fitokimia ( Untuk Mahasiswa Akademi Farmasi Theresiana Semarang )

LAPORAN SEMENTARA
PRAKTIKUM FITOKIMIA SKRINING FITOKIMIA
Physalis angulata L.
(CIPLUKAN)
Disusun Oleh:
Nama    : RYAN OKITAVINA
NIM      : 16.0613
Tanggal : 27 November 2017


AKADEMI FARMASI THERESIANA
SEMARANG
2017
SKRINING FITOKIMIA Physalis angulata (Ciplukan)
I. TUJUAN
1. Mahasiswa mampu melakukan pembuatan simplisia herba ciplukan dalam bentuk serbuk kering
2. Mahasiswa mampu melakukan skrinning fitokimia serbuk herba ciplukan guna mengetahui golongan senyawa bioaktif yang dilakukan melalui uji tabung.
3. Mahasiswa mampu mengidentifikasi senyawa polifenol, saponin dan tanin dalam herba ciplukan
II. PRINSIP
a. Skrining Fitokimia
Skrining fitikimia merupakan tahap pendahuluan  dalam suatu penelitian fitokimia yang bertujuan untuk memberikan gambaran tentang golongan senyawa yang terkandung dalam tanaman yang sedang diteliti. Metode skrining fitokimia dilakukan dengan melihat reaksi pengujian karena dengan mengunakan suatu pereaksi warna. Hal yang berperan penting dalam fitokimia adalah pemilihan pelarut dan metode ekstraksi (Kristanti, dkk, 2008).
b. Uji tabung
Analisa kualitatif yang dilakukan dengan cara mengidentifikasi suatu senyawa yang terdapat pada tanaman atau bagian tanaman menggunakan pereaksi tertentu untuk mendapatakan senyawa bioaktif yang diinginkan.
III. DASAR TEORI
Fitokimia atau kimia tumbuhan mempelajari aneka ragam senyawa organik yang dibentuk dan ditimbun oleh tumbuhan yaitu mengenai struktur kimianya, biosintesanya, perubahan serta metabolismenya, penyebaran secara alamiah serta fungsi biologinya. Tumbuhan menghasilkan berbagai macam senyawa kimia organik, senyawa kimia ini bisa berupa metabolit primer maupun metabolit sekunder. Kebanyakan tumbuhan menghasilkan metabolit sekunder, metabolit sekunder juga dikenal sebagai hasil alamiah metabolisme. Hasil dari metabolit sekunder lebih kompleks dibandingkan metabolit primer. Berdasarkan asal biosintesanya, mtabolit sekunder dapat dibagi ke dalam 3 kelompok besar yakni terpenoid (triterpenoid, steroid, dan saponin ) alkaloid dan senyawa-senyawa fenol (flvonoid dan tanin) ( simbala, 2009)
Berbagai macam pendekatan dilakukan untuk mendapatkan bahan alam yang memiliki aktifitas biologis, yaitu :
a. Pendekatan fitofarmakologi
b. Pendekatan skrining fitokimia.
Pendekatan fitofarmakologi meliputi uji efek farmakologi terhadap hewan percobaan dengan ekstrak tumbuhan atau bagian tumbuhan. Misalnya efek farmakologi terhadap susunan syaraf pusat terhadap ogan tertentu, dsb. Percobaan farmakologi dapat dilakukan secara invitro dan atau invivo. Aktifitas yang diujikan antara lain antineoplastik (antikanker), antiviral, antimikroba, anti malaria, insektisida, kardiotonik, dll. (Harborne, 1996).
Pendekatan skrining fitokimia meliputi uji analisis kualitatif kandungan kimia dalam tumbuhan ( akar, batang, daun, bunga, buah, biji) terutama kandungan metabolit sekunder yang bioaktif ( alkaloid, antrakinon, flavonoid, glikosida jantung, saponin, tannin, minyak atsiri dsb ). Tujuan utama skrining fitokimia adalah mensurvey tumbuhan untuk mendapatkan kandungan bioaktif atau kandungan yang berguna untuk pengobatan. (Harborne, 1996).
Ciplukan merupakan tanaman herba menahun di daerah tropis termasuk Afrika, Asia dan Amerika. Tumbuhan ciplukan (physalis angulata L.) memiliki kalsifikasi lengkap sebagai berikut :
Divisio         : Spermatophyta
Sub divisio  : Angiospermae
Familia        : Tubiflorae (Solanales, pensonatae)
Ordo            : Solanaceae
Genus          :Physalis
Spesies        : Physalis angulata L (Steenis, 1997)
Physalis angulata L merupakan terna semusim, tegak, acap kali bercabang kuat, setinggi 0,1 hingga 1.00 m, mungkin didatangkan dari Ameerika tropik. Di Jawa tanaman ini umum tumbuh dari dataran rendah hingga kurang lebih 1550 m diatas permukaan laut (terutama dibawah 1200 m) dilapangan yang tidak berair, yang ternaungi ringan atau tersinari sebagai gulma pada lading-ladang di kebun-kebun, di semak-semak, di tepi-tepi jalan ( heyne, 1987).
Batangnya berongga. Helaian daun bulat telur memanjang bentuk lanset. Dengan ujung runcing, bertepi rata atau tidak, tangkai bunga tegak, kelopak bercelah lima, mahkota berbentuk lonceng lebar kuning muda dengan pangkal hijau. Buah buni bulat memanjang, pada waktu masak kuning, dapat di makan (Steenis, 1997)
Kegunaan di masyarakat, daun digunakan untuk mengobati patah tulang, busung air, bisul, borok, menguatkan jantung, kesleo, nyeri perut dan kencing nanah. Pada daun umumnya ditemukan glikosida flavonoid (luteolin) (Gunawan, 2001). Dalam studi fitokimia dinyatakan bahwa Physalis angulata L. mengandung beberapa tipe senyawa yang aktif, berjpa unsure kimia alami yang meliputi flavonoid, alkaloid, dan beberapa tipe steroid. Tanaman ini memiliki aktifitas utama sebagai anti bakteri, antikanker, anti viral, juga biasa digunakan untuk menurunkan demam dan meningkatakan urinasi ( Steenis, 1997)
Polifenol adalah kelompok zat kimia yang ditemukan pada tumbuhan. Zat ini memiliki tanda khas yakni memiliki banyak gugus fenol dalam molekulnya. Fenol sendiri merupakan struktur yang berbentuk dari benzene tersubtitusi dengan gugus –OH. Gugus –OH yang terkandung merupakan aktivator  yang kuat dalam reaksi subtitusi aromatik elektrofilik (Fessenden, 1982)
Tannin merupakan salah satu contoh senyawa polifenol,. Tannin terdapat luasdalam tumbuhan berpembuluh dan terdapat khusus dalam jaringan kayu pada angiospermae. Secara kimia terdapat dua jenis tannin, yaitu tannin-terkondensasi atau flavolan dan tannin terhidrolisikan. Tannin terkondensasi terdapat dalam paku-pakuan, gymnospermae, dan angiospermae. Sedangkan tannin terhidrolisiskan penyebaranya terbatas pada tumbunan berkeping dua ( Harbone, 1987). Tannin mampu membuat lapisan pelindung luka dan ginjal. Kemampuan mengikat ion besi dengan menghasilkan larutan biru kehitaman atau hijau kehitaman menjadi dasar analilis kualitatif tannin  terhidrolisis atau tannin galat ( Saifudindkk, 2011)
Saponin adalah sneyawa aktif permukaan yang kuat menimbulkan busa jika dikocok dalam air dan pada konsentrasi yang rendah sering menyebabkan hemolisi sel darah merah. Saponin digunakan sebagai bahan baku untuk sintesis hormon steroid yang digunakan dalm bidang kesehatan. Dua jenis saponi yang sering dikenal yaitu glikosida, triterpenoid alkohol dan glikosida struktur steroid tertentu yang mempunyai rantai spiroketal. Kedua jenis saponin ini larut dalam air dan etanol  tetapi tdak larut dalam eter (Harbone, 1996)
IV. ALAT DAN BAHAN
Alat
Bahan
- Tabung reaksi
- Pipet tetes
- Kapas
- Kertas saring/penyaring
- Penangas air
- Pipet pasteur
- Kertas pH
- Beakerglass
- Gelas ukur
- Pengaduk glass
- Corong kaca
- Kaki tiga
- Lampu spirtus
- Serbuk herba ciplukan
- Aqua dest
- KOH
- HCl 1%, HCLpekat
- Pereaksi dragendorff
- Natrium Karbonat
- Kloroform
- CH3COOH 5%
- Gelatin
- Metanol
- FeCl3
- Etanol  95%
- NaCl 10 %
- Petroleum eter
- Logam Zn
- Aseton
- H2SO4
- Ammonia
V. CARA KERJA
Uji Polifenol dan Tanin
a.) Uji Pendahuluan
Dipanaskan 2 gram serbuk herba ciplukan dengan air 10 ml selama 30 menit diatas pengangas air

Disaring dengan kapas larutan yang terjadi.

Bila larutan berwarna kuning sampai merah menunjukkan adanya senyawa yang mengandung kloroform (flavonoid, antrakinon, dll.) dengan gugus hidrolik (gugus gulam asam fenolat, dsb).

Ditambahkan larutan kalium hidroksida setetes demi tetes agar warna larutan
lebih intensif.
b.) Reaksi Warna
Dipanaskan 0,3 gram serbuk herba ciplukan dengan air 10 ml , biarkan
Dalam suhu kamar
Ditambah 3 – 4 tetes Nacl 10 %, homogenkan, disaring
         Filtrat                                                                           Ampas
A                        B                                                     C
(Blangko)       ditambah Fecl3                                  Gelatin+ 5ml nacl 10%
                                                                                                 
Gelatin + 5ml Nacl 10%    hijau kehitaman                           Putih
                                                                                             
Tidak ada endapan                  Fenol                                       Tanin
         Fecl3
            
  Hijau kehitaman
        Polifenol



Uji Saponin
a) Uji Buih
Dimasukkan 100mg serbuk herba ciplukan kedalam tabung reaksi

Ditambahkan air suling 10ml kedalam tabung

Ditutup dan kocok kuat – kuat selama 30 detik.

Biarkan tabung dalam posisi tegak selama 30 menit.

Apabila buih (sarang lebah) setinggi ± 3cm dari permukaan cairan maka menunjukkan adanya saponin.

Ditambahkan 1 tetes HCL 2 N buih tidak hilang
Tetap menunjukkan adanya saponin
b) Uji Liebermann-Burchard
Dilarutkan 0,3 gram serbuk herba ciplukan dalam 15 ml etanol
Dihomogenkan dengan batang pengaduk, disaring
   A                                                                         B
(Blangko)       Ditambahkan 3 tts asam asetat anhidrat + 1 tetes H2SO4 (p)
                                              Kocok
            Hijau biru                                          Kuning muda
         Saponin steroid                                     Saponin jenuh
VI. HASIL PENGAMATAN
1. Organoleptis serbuk ciplukan
a. Bentuk : serbuk kasar dan halus
b. Bau :
c. Rasa :
d. Warna : hijau kecoklatan
2. HasilPengujian
No
Pengujian
Pereaksi
Pustaka
Hasil
Keterangan
1.
Uji
Pendahuluan
Kuning kecoklatan
2.
Polifenol



a.Air + Nacl 10%
Coklat kehitaman

b.Larutan A(blangko)


c.Larutan B + Fecl3
Hijau biru hingga hitam
3.
Tanin



Larutan C + gelatin+Nacl 10%
Endapan
4.
Saponin



+ Air (kocok)
Terbentuk buih

+ 1 tts Hcl
Terbentuk buih
Uji Lieberman-Burchard



Larutan A ((Blangko)


Larutan  B + 3tts as.asetat anhidrat + 1tts H2SO4 (p)
Hijau biru (saponin
Steroid)



Kuning muda (saponin Jenuh

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Panduan Menggunakan ' Siakad ' ( Mahasiswa Akfar Theresiana Must Know!! )

Separoh Perjalanku di Akademi Farmasi Theresiana Semarang